Pemadaman listrik bergilir yang sering terjadi di Indonesia belakangan
ini sangat meresahkan masyarakat. Apalagi yang terjadi secara tiba-tiba.
Kehidupan modern saat ini sangat tidak memungkinkan tanpa adanya energi istrik. Kebutuhan listrik di Indonesia saat ini sebagian besar disupply dari
sumber energi fosil. Dalam beberapa waktu terakhir ini, harga minyak,
gas dan batu bara mengalami kenaikan yang sangat berarti.Cadangan
sumber energi pun semakin menipis dari tahun ke tahun. Berdasarkan data
dari IEA (International Energy Agency), cadangan untuk minyak bumi akan
bertahan sampai sekitar 41 tahun, gas bumi sekitar 67 tahun, dan batu
bara sekitar 192 tahun ke depan.
Dari segi konsumsi
listrik, rata rata watt/kapita untuk Indonesia adalah 55,3 watts. Jauh
jika dibandingkan dengan Amerika1460 watt/kapita dan Jerman 753
watt/kapita. Itupun dengan kenyataan bahwa masih ada 1/3 rakyat
Indonesia yang belum mendapat akses listrik (data Susenas). Melihat
data diatas sepertinya sangat ironi dengan kondisi energi di tanah air.
Cadangan sumber energi kita cukup tapi masih banyak daerah yang belum
terjangkau listrik. Dengan kapasitas terpasang seperti sekarang saja
(belum 100 persen) kita sudah kritis duluan.
Permasalahan
listrik kita karena kurangnya perhatian yang serius dari pemerintah
akan masa depan dan kesejahteran generasi negeri ini kedepan!
Kedengarannya sepele tapi dampaknya seperti saat ini (krisis energi).
Bagaimana tidak, permasalahan sebenarnya sederhana, karena tidak
seimbangnya permintaan dan penawaran. Kenaikan permintaan tidak
dibarengi dengan pasokan listrik yang memadai. Peradaban makin modern
dan perubahan gaya hidup cenderung meningkatkan permintaan. Semakin
tinggi pendapatan masyarakat, tingkat konsumsi non makanan seperti
hiburan (elektronik, TV, gaming, internet, dll) juga meningkat. Data
proyeksi konsumsi listrik kita ada tapi tindakan preventifnya yang
nihil. Kebiasaan negara kitakan, nanti kalau sudah terjadi baru grasa
grusu cari solusi.






0 komentar:
Posting Komentar